Administrator Tue 18 Jul, 2017
.jpg)
Ini tentang keyakinan dan keimanan kepada Rasulullah SAW. Pada prinsipnya yang kita peringati adalah kehadiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya kelahirannya. Oleh karena itu kita perlu senantiasa bershalawat, karena barangsiapa yang tidak pernah bershalawat termasuk orang yang kikir. Sedangkan yang bershawalat pada prsinsipnya adalah berdoa kepada Allah agar Rasulullah SAW mendapatkan keselamatan dan kemuliaan dan selanjutnya yang bersangkutan bisa mendapatkan syafaat di hari akhir.
Yang menambah keyakinan kita kepada Rasulullah SAW, bahkan bukan dari seorang muslim, melainkan seorang Amerika ahli sosiologi dan ahli sejarah, bernama Michael Hart. Beliau menyusun buku “The 100”, yang isinya 100 orang berpengaruh di dunia, dan selalu menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan pertama di setiap edisinya. Hal ini menurutnya disebabkan karena Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya lelaki yang punya wibawa dan bekas pengaruhnya tidak pernah berkurang. Michael Hart heran kenapa Muhammad bisa demikian. Setelah diteliti, menurutnya karena Muhammad SAW tipe kepemimpinannya adalah transformatif.
Kemunduran bangsa Indonesia salah satunnya disebabkan karena sejak kemerdekaannya justru dipimpin oleh pemimpin yang transaksional, bukan yang transformatif. Ciri pemimpin transaksional diantaranya adalah, selalu berlandaskan uang atau transaksi apa yang bisa didapatkannya. Orang yang sifatnya transaksional relatif tidak beriman, mudah marah, mudah tersinggung, dan dapat diadu domba.
Rasulullah SAW adalah pemimpin transformatif. Suatu ketika Rasulullah SAW pernah meminta salah seorang sahabat memberikan air, namun setelah diberi minum Rasulullah SAW menangis. Sahabat pun bingung dan menanyakannya. Rasulullah SAW menjawab bahwa Beliau teringat QS. At-Takatsur, dimana semua yang dinikmati akan diminta pertanggungan jawabanya di depan Allah. Yang namanya kebajikan ukurannya adalah iman kepada Allah. Semua hal ditakar apakah sesuai iman kepada Allah atau tidak. Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW diminta berhenti berdakwah oleh paman-pamannya. Beliau hanya mengatakan, “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kanan saya dan bulan ditangan kiri saya, sungguh saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan urusan (agama) ini atau saya mati karenanya”.
Terkait dengan pemilu yang akan datang, dihimbau agar mencari pemimpin yang transformatif, bukan yang transaksional. Karena pemimpin tersebut akan mempertanggungjawabkan segalanya kepada Allah SWT, bukan kepada keluarganya atau golongannya. Contoh pemimpin yang transformatif di Indonesia adalah para Wali Songo, yang selalu membimbing dengan slogannya “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.
Keadaan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini sebagaimana yang disampaikan Syamsu Ma'arif yang mengatakan keadaan di dunia saat ini khususnya Indonesia hampir sempurna kemungkarannya, banyak pemimpin yang transaksional. Namun, kita dalam bersikap sebaiknya tetap memilih yang terbaik. Oleh karena itu, seandainya tidak ada pemimpin yang bagus, maka pilihlah yang paling baik diantaranya (yang paing bagus diantara yang jelek), yaitu yang paling baik imannya. Hal ini dikarenakan, 60 tahun dipimpin orang dzalim lebih bagus daripada satu hari tidak punya pemimpin. Mudah-mudahan Allah SWT membawa Indonesia memiliki pemimpin-pemimpin yang transformatif.
Pemimpin yang transformatif mesti tahu akhlaq Rasulullah SAW, dan yang patut mengetahui perkara akhlaq ini adalah hanya manusia, makhluk lain tidak. Karena makhluk lain dikendalikan dengan instingnya sedangkan manusia dikendalikan oleh akhlaqnya. Inilah perlunya Rasulullah SAW sebagai panutan dalam berakhlaq. “Innaka la'alaa khuluqin adzim”, sesungguhnya pada Rasulullah SAW terdapat akhlaq yang agung (QS. Al-Qolam:4).
Kita perlu mengadakan reformasi dakwah. Salah satunya adalah diantara pengurus masjid-masjid perlu mengadakan rembug masjid. Salah satu sifat Rasulullah SAW adalah teliti dan hati-hati, tidak pernah gegabah mendahului keputusan Allah SWT. Satu contoh, dari QS. Al-Hujurat:6 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Mari kita cari pemimpin yang transformatif, karena jika kita memilih pemimpin yang transformatif akan berpahala sedangkan jika memilih pemimpin yang transaksional justru kita akan turut berdosa.
Cari postingan kami
Postingan terbaru
- Kegiatan Ulang Tahun TK Islam Al Muttaqin Ke 25
- Kegiatan Sanlat Ramadhan 1435 H
- Tausiyah Ustadz Zainudin
- Tausiyah Ahmad Djohar Arifin
- Tausiyah Prof Ismail Ariyanto