Administrator Tue 18 Jul, 2017

Lima ratus tahun lebih sebelum kelahiran Muhammad SAW, Allah telah mengabarkan akan datang utusan-Nya sebagaimana yang termuat dalam QS. As-Shaf. Kabar tersebut bahkan termuat dalam kitab Taurat di zaman Nabi Musa. Namun sikap dari Bani Israil justru tidak menerima. Jarak kedatangan antara satu nabi dengan nabi yang lain sebelum Nabi Isa jaraknya saling bertautan. Namun diantara Nabi Isa dan Nabi Muhammad jarakanya 500 tahun. Hal itu merupakan salah satu sebab masyarakat dalam keadaan jahiliyah.
Mari kita jadikan kegiatan ini menjadi salah satu sarana mempelajari apa yang diwariskan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah panutan bagi keluarga, masyarakat di sekitarnya, bahkan panutan hidup untuk semua orang. Rasulullah SAW pada usia 12 tahun dapat memberikan solusi menempatkan hajar aswad yang tergeser dari tempatnya tanpa menimbulkan perpecahan di antara kaum Quraisy dan semua suku ridho atas solusi tersebut.
Pada saat hijrahnya ke Madinah, Nabi Muhammad SAW perrnah berhenti di Masjid Quba dan menyampaikan wasiat “Yaa Ayyuhannas ufsyus salaam, wa ath-imuth-tho'am, wa shilul-arhaam, wa shollu bilaili wan-nashnian, tadhhulul jannah, bissalaam”. Pertama, ufsyus-salaam, tebarkan salam, damai diantara kalian, jangan cekcok, cari solusi dan jangan cari masalah. Kedua, athi-imuth-tho'am, bersedakah kepada yang pantas disedekahkan, berikan makan untuk orang yang memerlukan dan jangan kikir. Dan barang yang diberikan adalah barang yang halal bukan hasil korupsi. Ketiga, shollu bilaili wan-nashnian, bangun di tengah malam dan mendirikan sholat di saat orang-orang sedang tidur. Sholat malamnya Nabi tidak sebentar, pernah suatu malam ada seorang sahabat mengikuti sholat tahajud nya Nabi secara diam-diam, tapi tidak mampu mengikutinya karena terlalu lama. Jika dapat menjalankan ketiganya, maka tadhhulul jannah, bissalaam, yaitu surga akan menunggu kita dengan penuh kedamaian.
Dalam kehidupan diantara sesama, Rasulullah SAW mewasiatkan 5 hal, ini dapat kita praktekan dalaam kehidupan bertetangga. Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022). Pertama, jawablah salam, tegurlah sesama dengan salam. Kedua, saling tengok tetangga kita yang sedang sakit dan doakan agar cepat sembuh dan hibur agar cepat pulih. Ketiga, mengiringi jenazah. Kebetulan warga kita ada yang baru saja berpulang ke Rahmatullah. Tidak hanya takziyah tapi antarkan jenazah ke kuburnya. Keempat, penuhi undangan siappaun yang mengundang kita dan jangan pilih-pilih. Kecuali jika memang ada halangan yang syar'i (tidak dibuat-buat), dan mohon izin jika tidak bisa datang. Terutama juga undangan nikah, yang merupakan upacara sakral. Kelima, sambung orang yang bersin dengan doa, alhamdulillah-yarhmukallah.
Kesantunan Nabi Muhammad SAW terlihat dalam segala hal. Salah satu contohnya pada saat penaklukan Mekkah, Rasulullah SAW tidak mengharapkan apa-apa dari musuh yang ditaklukannya. Pada saat itu Abu Sufyan yang pernah memimpin menyerang umat Islam sehingga terbunuhnya paman Rasulullah SAW, namun Nabi Muhammad SAW tidak menuntut balas dendam. Pada saat yang lain, suatu saat seorang Yahudi sakit, Rasulullah SAW menengok dan mendoakan untuk kesembuhannya. Dengan sikap tanggapan yang baik dan santun justru menarik lawan menjadi kawan.
Search our Posts
Recent Posts
- Kegiatan Ulang Tahun TK Islam Al Muttaqin Ke 25
- Kegiatan Sanlat Ramadhan 1435 H
- Tausiyah Ustadz Zainudin
- Tausiyah Ahmad Djohar Arifin
- Tausiyah Prof Ismail Ariyanto