Administrator Sat 15 Jul, 2017
Judul Asli: Al-Inshaf fi Asbabil Ikhtilaf Penulis: Syah Waliyullah Ad-Dahlawi Alih Bahasa: KH A Aziz Masyhuri Penerbit: Pustaka Pesantren Ikhtilaful Ummati Rohmatun, perbedaan ummatku adalah rahmat. Demikian sabda Nabi yang populer digunakan untuk menyikapi fenomena perbedaan umat. Secara implisit hadis ini mengindikasikan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus dikelola agar mendatangkan kemaslahatan. Imam Sufyan As-Syauri berpendapat bahwa kata “ikhtilafu” (perbedaan) dalam hadis nabi di atas diartikan dengan usaha memperluas pemahaman hukum Islam kepada umat.
Namun, dalam realitasnya umat Islam selama ini belum mampu menangkap dan mengimplementasikan pesan agung itu. Bahkan ironisnya, hanya karena beda madzhab, organisasi, partai maupun kepentingan, antar sesama muslim saling mengkafirkan, mencaci bahkan tidak jarang saling membunuh. Bukan lagi rahmat, tapi laknat yang didapat.
Saat kelompok di luar Islam mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam masih saja berkubang dalam kebodohan karena perpecahan. Selaras dengan hal tersebut, Suryadarma Ali berpendapat bahwa sikap jumud (beku) dan tafarruq (pecah belah) adalah faktor pelemah kekuatan dan perusak keutuhan umat Islam. Demikian ulas Menteri Agama RI dalam pengantar buku berjudul “Beda Pendapat di Tengah Umat” karya KH A Aziz Masyhuri mantan ketua RMI Pusat (hal. xviii).
Pendapat tersebut cukup beralasan, sebab kejumudan dan perpecahan tidak memberikan ruang kepada umat untuk memberdayakan diri dalam ilmu pengetahuan. Kreatifitas terpasung, taqlid hanya kepada pemimpin atau ulama kelompoknya, namun menegasikan ide-ide besar kelompok lain.
Buku di atas berjudul asli “Al-Inshaf Fi Asbabil Ikhtilaf” karangan ulama pembaharu India, yakni Syeikh Waliyullah Ad-Dahlawi (1114-1176 M.) Dalam buku tersebut diungkap sebab-sebab awal terjadinya perbedaan di kalangan umat Islam, mulai masa sahabat hingga abad keempat Hijriah. Karya besar Ad-Dahlawi ini terinspirasi oleh fenomena perselisihan antar sesama umat Islam yang tiada kunjung usai, pertengkaran yang pada akhirnya melemahkan potensi internal umat Islam. Disinyalir perselisihan itu hanya dilatarbelakangi perbedaan interpretasi al-Qur’an dan al-Hadis, ditambah kefanatikan serta ketidakcerdasan umat Islam menyikapi perbedaan.
Namun, dalam realitasnya umat Islam selama ini belum mampu menangkap dan mengimplementasikan pesan agung itu. Bahkan ironisnya, hanya karena beda madzhab, organisasi, partai maupun kepentingan, antar sesama muslim saling mengkafirkan, mencaci bahkan tidak jarang saling membunuh. Bukan lagi rahmat, tapi laknat yang didapat.
Saat kelompok di luar Islam mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam masih saja berkubang dalam kebodohan karena perpecahan. Selaras dengan hal tersebut, Suryadarma Ali berpendapat bahwa sikap jumud (beku) dan tafarruq (pecah belah) adalah faktor pelemah kekuatan dan perusak keutuhan umat Islam. Demikian ulas Menteri Agama RI dalam pengantar buku berjudul “Beda Pendapat di Tengah Umat” karya KH A Aziz Masyhuri mantan ketua RMI Pusat (hal. xviii).
Pendapat tersebut cukup beralasan, sebab kejumudan dan perpecahan tidak memberikan ruang kepada umat untuk memberdayakan diri dalam ilmu pengetahuan. Kreatifitas terpasung, taqlid hanya kepada pemimpin atau ulama kelompoknya, namun menegasikan ide-ide besar kelompok lain.
Buku di atas berjudul asli “Al-Inshaf Fi Asbabil Ikhtilaf” karangan ulama pembaharu India, yakni Syeikh Waliyullah Ad-Dahlawi (1114-1176 M.) Dalam buku tersebut diungkap sebab-sebab awal terjadinya perbedaan di kalangan umat Islam, mulai masa sahabat hingga abad keempat Hijriah. Karya besar Ad-Dahlawi ini terinspirasi oleh fenomena perselisihan antar sesama umat Islam yang tiada kunjung usai, pertengkaran yang pada akhirnya melemahkan potensi internal umat Islam. Disinyalir perselisihan itu hanya dilatarbelakangi perbedaan interpretasi al-Qur’an dan al-Hadis, ditambah kefanatikan serta ketidakcerdasan umat Islam menyikapi perbedaan.
Unduh selengkapnya disini
