Sambutan Pembina Yayasan Masjid Al Muttaqin

Administrator Sun 09 Jul, 2017

Sambutan Pembina Yayasan Masjid Al Muttaqin

Mengawali sambutannya dengan apresiasi terhadap para hadirin yang berpartisipasi memperingati maulid Nabi Muhammad SAW mengenang segala pengorbanan Rasulullah 14 abad yang lalu, dimana tanpa amalan Rasulullah tentunya kita tidak dapat menjadi seperti sekarang ini dalam keadaan muslim dan berkumpul di masjid ini.

Kita memahami kondisi masjid kita saat ini yang pengurusnya dipimpin salah seorang dari generasi muda, semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah dimana Rasulullah pernah mengutus Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang belia menjadi wali/pimpinan di Negeri Syam. Nabi Muhammad SAW berpesan agar para sahabat jangan cemburu dengan hal itu dan dapat menerimanya, karena Usamah bin Zaid punya potensi dan semangat sebagaimana kehebatan ayahnya, dan para sahabat akan melihat prestasi keberhasilan kepemimpinanya. Berlandaskan sunnah tersebut, para pembina menunjuk sdr. Ahmad Ridho sebagai pimpinan yayasan dan mengharapkan para pendahulu di masjid ini dapat menerima kepemimpinan generasi muda yang diharapkan memiliki potensi dan kreatifitas dalam mengurus Masjid Al Muttaqin. Disamping itu juga mengingatkan pimpinan yang baru agar jangan selalu tergesa-gesa menjalankan kepengurusaannya, melainkan perlahan agar para tetua dapat mengikuti dan memahami apa yang dimaksudkan. Selain itu juga mengingatkan agar pimpinan yang baru menyadari posisinya sebagai generasi yang baru dan senantiasa belajar serta menyerap ilmu dari generasi sebelumnya.

Kita semua hadir pada hari ini menyemarakan acara ini mulai dari yang muda sampai yang tua semata-mata meningkatkan tali ukhuwah. Menyikapi segala perpecahan umat yang ada saat ini, semuanya itu adalah semata-mata permasalahan politik. Disamping itu keadaan statis dan kelesuan kemajuan umat Islam yang ada saat ini disebabkan tingkah laku umat Islam itu sendiri. Beliau menghimbau agar kita bisa membedakan mana Islam yang dilandasi politis dan mana yang Islam murni. Jika demikian, insyaAllah umat Islam tidak akan berpecah belah dan Islam akan benar-benar menjadi rahmat bagi semuanya.

Beliau mengingatkan kembali agar yang muda dan orang baru dapat mengormati yang tua dan para pendahulu, sebagaimana hubungan muhajirin dan anshor pada zaman Rasulullah SAW. Dan para pendahulu juga dapat menerima adanya pendapat-pendapat baru. Hubungan muhajirin dan anshor pada zaman Rasulullah SAW diwarnai rasa cinta dan ukhuwah yang dalam, bahkan kerelaan saling berkorban diantara mereka yang patut diteladani oleh kita semua.